Laporan
Kewirausahaan
Medan, Juni 2020
USAHA SRC(Sempoerna Retail Community) TUTI
Dosen Penanggung
Jawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Oleh:
Juliana
191201123
Kelompok 4
HUT 2C
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur
penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat
menyelesaikan laporan “USAHA SRC (Sempoerna Retail Community) TUTI” dengan baik dan
tepat pada waktunya.
Penulis juga
mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah kewirausahaan Dr. Agus Purwoko,
S.Hut., M.Si. yang telah bersedia
menuangkan ilmunya untuk menjadi inspirasi dalam penyelesaian laporan ini.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada para kakak/abang asisten yang telah membantu dalam proses penyelesaian laporan ini.
Penulis menyadari
bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca untuk kesempurnaan laporan dimasa yang akan datang.
Medan, Juni 2020
Penulis
Halaman
KATA
PENGANTAR.................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................... ii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang.............................................................................. 1
1.2Tujuan............................................................................................ 2
BAB II. ISI
2.1Profil
Usaha....................................................................................3
2.2Kiat-Kiat
Sukses.............................................................................3
BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN
3.1Kesimpulan.................................................................................... 5
3.2Saran............................................................................................... 5
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dunia industri yang berkembang
dengan pesat membuat para pengusaha menciptakan ide-ide yang cemerlang demi
mendapatkan rezeki. Seperti halnya industri perdagangan yang sedang marak di
Indonesia yaitu minimarket. Hampir di setiap sudut kota maupun desa ada
minimarket yang dikembangkan oleh masyarakat secara mandiri atau seorang
pengusaha besar. Indomaret dan Alfamart merupakan salah satu perusahaan
waralaba swalayan yang menyajikan bahan-bahan pokok dijual untuk keperluan
seharihari. Alfamart merupakan minimarket milik perusahaan PT. Sumber Alfaria
Trijaya, Tbk. Alfamart merupakan perusahaan dagang aneka produk yang dipimpin
oleh Djoko Susanto sekeluarga dan pertama beroperasi di Karawaci Tangerang
Banten yang didirikan pada 27 Juni 1999. Sahamnya semula dipegang oleh PT. Alfa
Mitramart Utama (AMU) yang kemudian dipindah tangankan ke PT. Sumber Alfaria
Trijaya pada tanggal 15 Januari 2009. Tahun 2010 sejumlah penghargaan diraih
oleh Alfamart seperti Top Brand Award dan Indonesia Best Brand Ward 2009. Hal
ini mencerminkan bahwa kinerja dalam marketnya memuaskan pelanggan.
Hal ini terbukti
dengan jumlah toko dari tahun 2008 yang memiliki 2.157 meningkat menjadi 3.000
toko pada tahun 2009 dan setelah tahun 2010 memiliki lebih dari 4.000 gerai
toko. Peningkatan ini mencerminkan bahwa toko Alfamart diterima oleh
masyarakat. Seperti halnya Alfamart maka Indomaret pun tidak ingin kalah
bersaing, di mana Indomaret juga mengembangkan gerai tokonya. Dari tahun 2008
sejumlah 650 toko kemudian tahun 2009 menjadi 3.134 toko. Bahkan di tahun 2010
ini sudah ada lebih dari 4000 gerai toko dibuka. Persaingan antar kedua
minimarket tersebut sangat tajam. Hal ini dapat dilihat dari persaingan pembukaan
gerai toko. Bahkan kedua minimarket tersebut selalu berdampingan dalam membuka
toko. Ada persaingan penjualan di antara keduanya namun seakan-akan tidak
peduli adanya persaingan. Persaingan yang terjadi ada dalam pembentukan harga,
promosi, diskon, penataan tempat, pemberian kartu smart multifungsi bahkan
sampai pelayanan. Semua itu pada dasarnya adalah demi tujuan ekonomi dan
sosial. Tujuan ekonominya adalah untuk mencari keuntungan dan tujuan sosialnya
adalah memberikan kepuasan kepada pelanggan.
Dari latar belakang
tersebut dapat kita diketahui bahwa persaingan yang terjadi di kedua minimarket
tersebut tidak memerdulikan toko-toko di sekitar minimarket yang ada seperti
toko kelontong. Dari hasil wawancara sementara peneliti dapat disimpulkan bahwa
ada kurang lebih 5-10 pelanggan toko kelontong yang lari ke Indomaret dan
Alfamart untuk berbelanja. Padalah dilihat dari harga dan kualitas barang
nilainya sama. Demikian pula dilihat dari letak lokasi antara toko kelontong
dan kedua minimarket tersebut justru lebih dekat toko kelontong ke pembeli. Menurunnya
jumlah pelanggan di toko kelontong dapat mengakibatkan matinya usaha kecil
masyarakat. Namun, di sisi lain, pemilik toko kelontong seharusnya belajar atas
munculnya kedua mini market tersebut. Hal ini perlu dilakukan supaya toko-toko
kelontong milik masyarakat tidak mati pertumbuhannya karena hal ini berkaitan
dengan kesejahteraan masyarakat.
Sebagai civitas akademik kita harus mencari
solusi untuk masyarakat agar kesejahteraannya meningkat, sehingga tujuan akhir
penelitian ini adalah langkah apa yang harus diambil para toko kelontong agar
mampu bersaing dengan minimart yang semakin menjamur. Segi-segi apa dan
strategi apa yang harus ditingkatkan oleh para penjual toko kelontong. Dari
hasil survey sementara peneliti diketahui bahwa sebagian besar toko kelontong
memiliki tempat strategis, yaitu di pinggir jalan. Namun dalam penentuan harga
jauh lebih mahal dibandingkan Indomaret/Alfamart. Penataan produknya kurang
rapi dan dari segi kenyamanan tempat pun kurang bersih dan kurang terawat. Ada
strategi yang dipakai oleh mini market Indomaret/Alfamart tersebut yaitu
strategi pemasaran dan strategi penjualan.
Dalam ekonomi
istilah tersebut dapat diprediksi dengan melihat sisi konsumen dan produksi.
Kepuasan konsumen/pelanggan (customer satisfaction) dan mempertahankan
loyalitas pelanggan (customer loyality) merupakan salah satu metode yang
digunakan oleh kedua mini market tersebut. Customer Satisfaction (CS) merupakan
analisis tingkat kepuasan pelanggan yang senang pada suatu produk. CS
diperlukan untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan secara keseluruhan
dengan memerhatikan tingkat kepentingan dari atribut-atribut produk atau jasa.
Menjamurnya usaha ritel sekarang ini mengakibatkan toko kelontong terpuruk
dalam pendapatan. Sebagai praktisi akademik maka wajib bagi kita mencarikan
solusi agar ekonomi masyarakat dapat bertahan dan meningkat dalam masyarakat
sehingga kesejahteraan dapat tercapai. Usaha
Kecil dan Menengah
(UKM) mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional.
1.2 Tujuan
Untuk memberikan informasi keuangan Usaha Kecil dan Menengah, dan juga tentang kontribusi pendapatan usaha warung kelontong. Dan agar para pembaca bisa belajar dari usaha dari narasumber yang saya wawancarai.
BAB II
ISI
2.1
Profil Usaha
Berdasarkan
wawancara yang saya lakukan dengan pemilik usaha SRC TUTI, yaitu ibu Tuty
Riana, S.E. yang berada didaerah Namorambe,Deli Tua, Sumatera Utara. Ibu Tuty.
Ibu Tuty memulai usahanya pada tahun 2013, hingga sekarang, walaupun ibu Tuti
seorang sarjana ekonomi bukan berarti beliau ingin bekerja di sebuah kantor
atau perusahaan, beliau berkata bahwa beliau tidak suka bekerja dibawah
perintah orang lain, selain tidak bisa bebas beliau bilang dia juga tidak akan
bisa mengembangkan kreatifitas usahanya untuk dirinya sendiri. Beliau juga
mengatakan bahwa dengan membuka usaha sendiri kreatifitasnya dapat berkembang
dan dia senang bekerja sendiri karena pada dasarnya ibu Tuty ini adalah orang
yang mandiri, apalagi beliau hanya tinggal sendiri, karna tidak memiliki
saudara, orangtua yang sudah meninggal dunia, dan beliau yang belum berkeluarga
hingga sekarang, membuat beliau berani untuk memcoba membuka usahanya sendiri.
Ibu Tuty
mengatakan modal awal yang beliau gunakan hanya sebesar Rp2
juta, dan hal itu sukses membuat saya terkejut, mengingat kebanyakan
usahawan-usahawan yang lainnya menggunakan modal yang lebih besar, dan ketika
saya wawancarai lebih dalam, Ibu Tuty ini memiliki cara yang lumayan berbeda
dari usahawan-usahawan yang pernah saya temui, karna beliau menggunakan modal
yang kecil, tetapi usaha beliau terbilang cukup sukses sampai sekarang menurut
saya, beliau mengatakan ketika memulai suatu usaha tidaklah harus selalu
menggunakan modal yang besar, karena dengan modal yang tidak begitu besar
diawal usaha, menjadikan masalah atau kendala yang dihadapi kedepannya relatif
kecil dalam menjalankan suatu usaha.
Penjualan atau
barang yang keluar sekitar Rp1,5 juta- Rp2 juta/hari, tetapi itu adalah
penjulan atau barang keluar, sementara keuntungannya belum dihitung dari barang
yang keluar, jika dihitung ibu Tuty mendapat keuntungan sebesar
Rp75.000/harinya dan Rp4,7 juta/bulannya, itulah keuntungan dari semua barang
yang terjual dalam 1 hari. Keuntungan yang tidak begitu besar dikarenakan
beliau tidak mengambil keuntungan yang terlalu besar agar dapat menghindari
kerugian yang besar juga, beliau mengambil keuntungan tidak sampai 5% dari
harga barang asli yang beliau beli dari toko besar.
2.2
Kiat-Kiat Sukses
Beliau mengatakan manajemen itu adalah bakat,
maka dari itu manajemen tidakalah harus sulit dijabarkan dalam suatu data atau
tulisan, tetapi manajemen tersebut sudah harus tergambar diotak kita, agar
semua bisa berjalan sesuai yang kita inginkan, dan berusahalah mengatur waktu
sebaik mungkin agar hasil yang didapat juga memuaska. Ibu Tuty memang sengaja
mengambil keuntungan kecil, asal semua barangnya laku terjual karena setiap
tempat usaha memiliki hal yang membuat pelanggannya tertarik untuk berbelanja
ditempat tersebut, maka dari itu belia menjual barang-barangnya dengan harga relatif murah demi menarik minat
pelanggan agar mau berbelanja di tokonya, terutama ibu-ibu rumah tangga yang
sangat menyukai barang murah dengan kualitas barang yang baik.
Berikut adalah foto-foto dari toko Ibu Tuty:
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Menjadi seorang wirausahawan
haruslah memiliki bakat manajemen, setidaknya walau tidak memiliki bakat
manajemen kita harus belajar banyak tentang manajemen usaha dan memiliki banyak
persiapan, agar ketika kita memulai suatu usaha tidak mendapat masalah atau
kendala bahkan kerugian yang besar dalam menjalankan sebuah usaha, banyaknya
pengetahuan tentang manajemen usaha sangatlah penting untuk memulai dan mengembangkan
suatu usaha. Kreatifitas juga sangat diputuhkan, sangat penting untuk membuat
usaha kita berbeda dari usaha lainnya, terlihat berbeda dan unik bisa menjadi
daya tarik tersendiri bagi pelanggan atau konsumen, dengan begitu usaha yang
kita buat bisa memiliki peluang sukses yang lebih besar, dan sanggup untuk
bersaing di dunia bisnis bersama dengan usahawan-usahawan lainnya.
Saran
Sebaiknya kita yang memiliki
bakat untuk berbisnis tidak menyia-nyiakan bakat kita, sudah seharusnya kita
mengembangkan bakat kita tersebut. Dan apabila berminat memulai suatu usaha,
sebaiknya kita banyak belajar dan membuat persiapan agar usaha kita bisa
memiliki peluang sukses yang besar.
DAFTAR PUSTAKA
Ahvie,
Alvi F dan Deny D.2009.“Analisis Kepuasan Pelanggan (Customer
Satisfaction)
Terhadap Layanan Hypermart Pekanbaru”, Jurnal Ekonomi, Volume 17, Nomor 2
Anwar, Muhammad, H.M, 2014, Pengantar
Kewirausahaan Teori dan Aplikasi, Jakarta: Kencana.
Dick,
Alan S and Basu, “Customer Loyality: Toward An Integrated Conceptual
Framework”,
Journal of the Academy of Marketing Science, Vol. 22.
Herujito,
Yayat M., 2001, Dasar-Dasar Manajemen, Jakarta: Grasindo
Hidayat A. 1991. Pekerjaan Sektor
Informal (Dalam Kaitannya Dengan Perkotaan). Jakarta: Rineka Cipta.
Kasmir.
2012. Analisis Laporan Keuangan, Edisi keenam, PT. Raja Grafindo
persada , Jakarta.
Syatibi.
2008 “Model Strategi Pengembangan Usaha Ritel Tradisional Ditengah Munculnya
Usaha Minimarket Modern di Bandar Lampung”, Laporan Penelitian Dosen, Fakultas
Ekonomi Universitas Lampung.


